Mereka tahu bahwa lebih banyak bahaya bisa datang kapan saja, terutama jika orang-orang yang tersisa dari kelompok itu menemukan lokasi mereka. Lynx memutuskan untuk memperkuat gua, sementara Sherly dibiarkan beristirahat di dalam gua, masih dilingkupi trauma yang mendalam.

Pagi berikutnya, suasana di dalam gua dipenuhi ketegangan. Sherly duduk di sudut, dia sudah menggunakan pakaian baru yang diberikan oleh Leena. Dia membenamkan wajah di kedua lututnya. Tubuhnya gemetar, dan air matanya terus mengalir tanpa suara. Leena berusaha menenangkannya, meski Sherly hanya merespons dengan tatapan kosong. Lynx duduk tak jauh dari mereka, memutar-mutar pisau kecil di tangannya, pikirannya sibuk mencerna peristiwa yang baru terjadi.

"Sherly," Leena memulai lembut, "kami butuh kau untuk menceritakan apa yang terjadi. Kenapa kau bisa sampai tertangkap oleh mereka?"

Sherly tidak menjawab. Dia memejamkan matanya sejenak, tapi kemudian tubuhnya mengejang, dan dia mulai menangis tersedu-sedu. Leena memeluknya dengan erat, membiarkan gadis itu melampiaskan emosinya. Lynx mendekat, suaranya tegas tapi penuh pengertian.

"Kami tidak ingin memaksamu," kata Lynx, "tapi kami harus tahu apa yang kita hadapi. Kau tidak sendirian sekarang. Apa yang terjadi sebelum kau tertangkap?"

Sherly menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat, dia mulai berbicara dengan suara yang nyaris berbisik, seperti mengingat kembali mimpi buruk.

"Saat aku memisahkan diri dari kalian," Sherly memulai, "aku pikir aku bisa menemukan tempat yang ingin aku datangi. Tapi jalan itu lebih berbahaya dari yang aku duga. Ada banyak suara-suara aneh… seperti sesuatu yang mengintai dari balik pepohonan."

Dia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. "Aku bertemu dengan sekelompok orang penduduk asli. Mereka terlihat berbeda dari yang menyerang kita. Mereka... tampak ketakutan. Ada sepuluh orang waktu itu, dan mereka bilang sedang melarikan diri dari suku lain yang lebih besar, yang ingin menangkap mereka."

"Suku lain?" Lynx bertanya cepat. "Yang mengejarmu, maksudnya?"

Sherly mengangguk. "Ya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, tapi mereka bilang suku itu memanfaatkan kekuatan gaib dan ritual aneh. Orang-orang yang aku temui menyebutnya suku monrest. Mereka tidak akan membiarkan siapapun hidup jika dianggap ancaman."

Dia berhenti sejenak, menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. "Aku secara tidak sengaja bertemu salah satu suku monrest dan dia ingin menangkapku, karena itu aku berlari dan ikut dengan kelompok itu, karena situasi kami sama-sama dikejar. Mereka tampak baik, meskipun ketakutan. Kami berjalan bersama selama dua hari, tapi suku monrest akhirnya menemukan kami."

Leena mengerutkan dahi. "Apa yang terjadi selanjutnya?"

"Beberapa dari kami tertangkap... dan dibunuh di tempat," Sherly melanjutkan, suaranya mulai bergetar. "Yang lain, termasuk aku, mencoba melarikan diri. Aku berhasil melarikan diri bersama lima orang lainnya, tapi kami terus dikejar. Kami tidak punya makanan, tidak punya air. Orang-orang itu mulai kelelahan, dan satu per satu mereka tertangkap. Aku... aku tidak bisa membantu mereka."

Air mata kembali mengalir dari wajah Sherly. Lynx dan Leena saling bertukar pandang, wajah mereka suram. "Bagaimana kau sampai ke tempat ini?" tanya Lynx.

Sherly menarik napas panjang sebelum menjawab. "Agar mereka tidak mengetahui tempat ini, aku sengaja sebelumnya meninggalkan mereka dengan mengalihkan perhatian, jadi aku bisa datang ke tempat ini untuk menemui kalian, tapi ternyata tempat ini kosong. Aku meninggalkan pesan dan segera melarikan diri kembali bersama yang lainnya.”

Sherly kemudian menceritakan bagaimana dia membawa racun dan senjata yang bisa ditemukan di gua untuk jaga diri dan membaginya dengan yang lain. Tapi di dekat pantai mereka terkejar dan bertarung melawan suku monrest. Jumlah yang mengejar mereka tidak sebanyak saat awal mereka bertemu

"Orang-orang bersamamu?" Leena bertanya, meski sudah tahu jawabannya.

"Mereka tertangkap," jawab Sherly lirih. "Aku berhasil melarikan diri. Aku tidak makan, tidak minum selama beberapa hari. Aku bahkan melepas pakaianku sendiri agar tidak meninggalkan jejak saat pakaian itu robek di semak-semak. Aku terus berlari hingga mereka akhirnya menangkapku."

Dia terdiam sejenak, menggenggam lututnya lebih erat. "Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Aku hanya tahu mereka menyeretku ke mana-mana, memperlakukanku seperti binatang. Sampai kalian menemukan aku…"

Gua kembali sunyi. Hanya suara langkah Lynx yang terdengar ketika dia berdiri dan berjalan menuju pintu masuk. Dia memandang ke luar, matanya tajam menatap hutan yang tampak tenang, meskipun kini dia tahu ada banyak bahaya yang bersembunyi di baliknya.

“Sherly, sebenarnya aku dan Lynx sudah pergi ke gua di barat tempat kamu dan Chiko tinggal sebelumnya.” Kata Leena.

“Bagaimana kalian bisa tahu tentang gua itu?” Sherly bertanya dengan kaget.

“Sebenarnya Chiko sempat memberitahu kami mengenai keberadaan gua itu dan juga kemana tujuan kalian yang sebenarnya, tapi karena takut dirimu marah, Chiko berusaha merahasiakannya.” Jawab Leena.

“Kami sudah melihat gambar-gambar yang ada di dinding gua, bahkan kami memanfaatkan tambang yang ada di sana untuk membuat perlengkapan ini,” kata Leena sambil menunjuk panci dan wajan.

Lynx melihat ada sorot ketidakpuasan pada Sherly, namun Lynx tidak ingin membahasnya.

"Kita tidak bisa terus bertahan di sini," kata Lynx akhirnya.

"Suku itu mungkin sudah kehilangan jejak kita untuk sementara, tapi mereka akan menemukan kita lagi. Apalagi, mereka lebih kuat dan lebih banyak dari yang kita perkirakan."

Leena mengangguk setuju, meski wajahnya masih khawatir memandang Sherly yang kembali tenggelam dalam kesedihannya.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Leena.

Lynx memandangi mereka dengan tatapan penuh tekad. "Kita akan pergi ke timur, seperti petunjuk yang kita temukan di peta, tapi kita akan melewati jalur yang berbeda dengan yang diarahkan.. Sebelum itu, kita perlu memastikan bahwa kita punya persiapan dan tidak meninggalkan jejak apapun. Kita harus membuat mereka percaya bahwa kita sudah mati."

Leena mengangguk, meskipun rencana itu terasa sangat berisiko. Sherly, di sudutnya, mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan sembab, tapi ada sedikit kilatan kelicikan yang kembali muncul.

"Aku akan membantu," katanya dengan suara serak. "Kita... kita harus menghindari mereka."

Lynx menatapnya lama, lalu mengangguk. "Baik. Tapi kau harus istirahat dulu. Kita butuh semua kekuatan yang bisa kita kumpulkan."

Hari itu, mereka mulai menyiapkan perjalanan besar. Lynx memastikan jebakan di sekitar gua tetap aktif, untuk memperlambat jika ada pengejar. Leena menyiapkan peralatan-peralatan yang akan dibawa, sementara Sherly, meski masih lemah, membantu membersihkan jejak di sekitar gua.

Saat malam tiba, mereka bertiga duduk mengelilingi api kecil di dalam gua. Lynx menjelaskan rencana perjalanan mereka dengan detail, memastikan semua siap menghadapi tantangan berikutnya. Sementara itu, di dalam hati mereka masing-masing, ketakutan dan harapan saling berperang.

Langit pagi mulai merona jingga saat Lynx berdiri di pintu gua, memandangi hutan yang terhampar di depan mereka. Setelah pertimbangan matang, ia yakin keputusan yang diambil sudah tepat. Mereka memutuskan tidak bisa lagi tinggal di gua itu. Bau kematian dan jejak pertempuran bisa menarik perhatian suku monrest yang mungkin mencari kelompok mereka yang tidak kembali.

"Kita harus segera pergi secepatnya. Semakin lama kita disini semakin berisiko untuk kita semua," kata Lynx, memecah keheningan pagi.

Leena memandangnya, ragu. "Apa kita cukup siap untuk perjalanan ini? Sherly masih lemah, dan kita tidak tahu apa yang ada di depan."

Lynx menatap Sherly, yang duduk diam di sudut gua. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya sudah tidak lagi kosong seperti kemarin. "Kita tidak punya pilihan. Tinggal di sini hanya membuat kita target empuk."

Lynx lalu menggambar arah mata angin, "Kita menuju ke bagian timur laut pulau lewat pinggir. Dengan menghindari jalur tengah pulau, kita bisa mencapai bagian timur pulau tanpa harus bertemu dengan mereka."

"Bukankah jika tidak melewati jalur sesuai gambar di gua sangat berbahaya?" Tanya Leena khawatir.

"Kita masih bisa berusaha menghadapi tumbuhan dan tanaman, tapi untuk menghadapi sesama manusia, aku merasa kita belum siap." Kata Lynx

Sherly tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri perlahan, meskipun tubuhnya masih gemetar.

Leena menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan siapkan ransum kita."

Sambil menunggu, Sherly diam-diam menyelinap ke sudut gelap gua. Tangannya meraba sebuah lubang bambu kecil di dinding, menarik keluar sebuah batu berlian dengan ukiran aneh. Batu berlian itu Ia dapatkan dari salah satu penduduk asli terbunuh saat melarikan diri. Selama ini sudah Ia simpan sejak melarikan diri bersama kelompok penduduk asli yang dikejar suku monrest. Ia tidak tahu pasti apa maknanya, tetapi ia merasa benda ini termasuk harta karun. Dengan hati-hati, Sherly mengikat dan menyembunyikan di balik pakaiannya.

Ketika semua sudah siap, mereka meninggalkan gua tanpa menoleh ke belakang. Lynx memimpin, Leena di tengah, dan Sherly yang masih lemah berjalan di belakang. Mereka bergerak dengan hati-hati, menghindari jalur yang terlalu terbuka dan memilih jalan setapak tersembunyi di antara pepohonan.

Hari pertama berjalan lambat. Sherly sering tersandung akar pohon, tubuhnya masih lemah akibat trauma dan kekurangan makan. Lynx menghentikan langkah mereka di sore hari ketika menemukan aliran sungai kecil yang jernih.

"Kita istirahat di sini sebentar," katanya, meletakkan tasnya.

Leena segera mengisi bambu dengan air dari sungai, sementara Sherly duduk di dekat tepi air, menatap refleksi wajahnya yang kotor. Lynx mengambil pisau kecilnya dan mulai mengasah panah yang tersisa.

"Jangan terlalu jauh dari sini," perintah Lynx. "Aku tidak ingin ada yang tersesat."

Leena tersenyum samar. "Kami sudah belajar dari pengalaman," jawabnya, mencoba meringankan suasana.

“Lynx, aku merasa ada yang aneh dengan Sherly. Dia tidak lagi berusaha menggodamu,” kata Leena saat mereka hanya berdua.

Lynx hanya menggelengkan kepala. Di dalam hatinya dia bingung,”bukankah bagus, karena aku tidak perlu lagi mendengar pertengkaran mereka.”

Namun, ketenangan mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara dari sungai menarik perhatian Lynx. Ia segera mengambil busur dan memasang panah.

“Diam,” bisiknya pelan.

“Lihat itu!” bisiknya kepada Leena dengan mata melebar.

Leena mengikuti arah pandangan Lynx dan melihat seekor buaya besar berjemur di tepi sungai. Kulitnya yang kasar dan gelap tampak menyatu dengan lumpur di sekitarnya, hanya matanya yang bersinar tajam.

“Buaya,” gumam Leena pelan. “Dan lihat, ada yang lain di dalam air.”

"Kita harus segera pergi dari sini" Lynx berbisik, kemudian secara perlahan-lahan mereka mendatangi Sherly dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

"Sherly, kita harus berangkat sekarang, ada banyak buaya didekat sini." Kata Leena berbisik sambil mengambil barang-barang.

Namun, Lynx melihat pandangan dan ekspresi Sherly terlihat aneh, Lynx segera memalingkan wajah dan melihat seekor buaya besar sudah didekatnya hendak menerkam.

Lynx segera melompat sambil mendorong tubuh Leena dan Sherly untuk menghindar. Sherly dan Leena yang panik langsung berdiri untuk menghindari sapuan kepala buaya.

Sherly yang sedang dalam kondisi fisik lemah segera terjatuh kehilangan keseimbangan setelah menghindari serangan, kemudian buaya tersebut membuka moncongnya untuk menggigit Sherly.

Leena berteriak "Sherly, lari..!" Namun Sherly yang sudah pasrah berpikir tidak bisa menghindari hanya memejamkan mata.

Setelah beberapa detik memejamkan mata, Sherly membuka matanya dan melihat Lynx sedang berusaha menarik ekor buaya agar menjauh dari Sherly.

"Leena, Sherly, cepat kabur. Aku akan menyusul kalian," teriak Lynx sambil melawan kekuatan buaya yang berusaha maju dengan sangat kuat.

Leena yang sudah mempercayai kemampuan Lynx, segera menarik tangan Sherly serta mengambil  peralatan mereka.

"Ayo Sherly, cepat! Lynx pasti bisa menyusul kita." Teriak Leena.

Tidak lama Leena dan Sherly pergi, tiba-tiba Lynx yang menahan ekor buaya besar terlempar karena hentakan ekor buaya.

Buaya membalikkan badan untuk menyerang Lynx yang terjatuh. Lynx berusaha berguling untuk menghindari serangan.

Kecepatan dan kegesitan buaya mulai membuat Lynx kewalahan, namun pengalaman hidup mati selama di pulau itu membuat Lynx tetap berpikir tenang.

Lynx berguling kebelakang berkali-kali untuk menjauhi buaya dan berusaha untuk berdiri. Punggungnya terasa nyeri karena benturan batu-batu disekitarnya. Lynx yang sudah merasa ada jarak dengan buaya segera berdiri dan melompat lebih jauh.

Melihat buaya yang masih gigih mengejarnya, Lynx segera mengambil kayu besar disekitarnya dan memukulkan kayu tersebut kemulut buaya, lalu menggunakan kesempatan untuk melompat lebih jauh.

Lynx berlari menuju parangnya, yang Dia letakkan didekat tempat duduk Sherly sebelumnya.  Namun Lynx kalah cepat, ekor buaya telah lebih dahulu memukul parang tersebut hingga terlempar dan melesat hampir mengenai Lynx.

Lynx berdiri bersiap untuk mengambil parang, namun buaya terlihat sudah siap menyerangnya sehingga Lynx menunda mengambil parang tersebut.

Melihat buaya yang melompat menerkam. Lynx melemparkan dirinya ke samping berusaha menghindar sejauh mungkin. Setelah berhasil menghindar, Lynx berdiri untuk bersiap menghadapinya lagi, namun keberuntungan datang lagi. Buaya besar terluka parah. Darah mengalir deras dari lehernya.

Ketika menerkam Lynx, leher buaya tersebut jatuh tepat di parang yang terlempar dan tersangkut berdiri di bebatuan, sehingga langsung menusuk bagian bawah leher buaya, dibagian terlemahnya.

Melihat parang yang tertancap, terlempar saat buaya mengamuk kesakitan, Lynx segera mengambil parang tersebut, dan segera melarikan diri menyusul Leena dan Sherly tanpa memperhatikan apakah buaya tersebut tewas atau tidak. Dia tidak ingin menghadapi buaya lain yang datang menyerang.

Sherly melihat Lynx datang langsung memeluknya.

"Lynx, syukurlah kamu selamat.," Kata Sherly.

Leena yang melihat Lynx kembali dengan selamat, hanya tersenyum bahagia melihatnya. Walau ada perasaan cemburu melihat Lynx dipeluk oleh Sherly, namun Leena masih bisa menyadari kondisi mereka saat ini.

Setelah insiden itu, perjalanan mereka menjadi semakin sulit. Mereka harus lebih berhati-hati dengan suara atau jejak yang mereka tinggalkan. Lynx mulai mengajari mereka lebih banyak tentang belajar dari alam untuk bertahan hidup di alam liar.

“Lihat daun ini,” kata Lynx sambil menunjukkan tanaman dengan daun berbentuk hati. “Ini bisa dimakan mentah. Rasanya tidak enak, tapi cukup untuk mengisi perut.”

Leena juga menemukan pohon dengan buah kecil berwarna merah. “Buah ini tidak beracun,” kata Lynx, “tapi kalau dimakan terlalu banyak, bisa membuat pusing.”

Sherly, yang sebelumnya hanya mengikuti dari belakang, mulai belajar lebih banyak. Dia memperhatikan setiap langkah Lynx, mencoba memahami bagaimana membaca jejak di tanah atau mengenali tanda-tanda bahaya dari binatang.

“Kau cepat belajar,” kata Lynx suatu malam ketika mereka sedang duduk di sekitar api kecil.

"Bagaimana kamu bisa belajar secepat ini Lynx?" Tanya Leena penasaran, karena saat awal mereka terdampar di Pulau ini, Leena sangat ingat kemampuan Lynx yang hanya mengandalkan pengetahuan dari televisi.

Lynx hanya berkata pelan. "Aku tidak punya pilihan. Aku harus belajar menghadapi alam. Kalau tidak belajar, aku akan mati. Selain itu ada seseorang yang harus aku lindungi, membuatku berusaha belajar sebaik mungkin."

Leena yang mendengarkan kata-kata itu mendadak menjadi merah wajahnya, hatinya terasa hangat. Meski tidak ada satupun di antara mereka yang mengungkapkan perasaan, namun hati mereka seolah telah menjadi satu.

Leena menutupi malunya dengan tersenyum kecil, lalu berkata kepada Sherly. "Kau banyak berubah, Sherly."

"Aku sudah menyesali semua perbuatanku sebelumnya, karena itu aku ingin berubah." Kata Sherly.

Namun, di dalam hatinya, Sherly memiliki rencana lain untuk dapat menyingkirkan Leena dan memiliki Lynx di sisinya.

Di malam harinya, mereka bermalam di atas pohon agar lebih aman. Sambil beristirahat, Lynx mencoba mencari informasi dari Sherly, apa saja yang dia ketahui mengenai gua di sebelah barat.

"Aku hanya tahu harus ke arah timur. Aku tidak banyak mengerti mengenai gambar-gambar itu. Chiko yang paling antusias mempelajarinya."

Mendengar kata Chiko, membuat suasana diantara mereka terasa hening. Lynx dan Leena masih mengingat kejadian saat Chiko diserang oleh kawanan serigala.

"Lalu apa rencanamu selanjutnya Sherly? Apakah kamu akan pergi sendiri ataukah kita bersama-sama menuju ke bagian timur?" Tanya Lynx memecah kesunyian.

"Aku akan ikut kalian. Aku tidak mau lagi mengalami dikejar-kejar oleh penduduk asli di sini." Kata Sherly sambil menunjukkan ekspresi wajah ketakutan. Kemudian dia mendekati Lynx, dan merangkul tangannya, lalu dia berkata, "aku yakin kamu pasti akan melindungiku."

"Tentu saja Sherly, aku pasti akan melindungi kalian berdua." Jawab Lynx.

"Lynx, aku kedinginan. Bisakah kamu memelukku agar hangat." Sherly memulai aksinya menarik perhatian Lynx.

Leena yang melihat tingkah Sherly menggelengkan kepalanya sambil berpikir, "ternyata Sherly belum berubah. Aku harus ingatkan Lynx untuk berhati-hati dengannya."

"Aku harus berjaga. Aku akan memeriksa keadaan sekitar. Kalian berdua bisa saling berpelukan dan saling menjaga agar hangat," jawab Lynx sambil bergerak turun dari pohon. Dia tidak ingin terkena masalah dari mereka berdua lagi.
